aku dan kamu adalah energi,...segala sesuatu dalam semesta ini adalah energi,...dan energi itu terhubung satu sama lain,...
Tampilkan postingan dengan label Sejenak Ngoceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejenak Ngoceh. Tampilkan semua postingan

04 November 2008

Untuk Apa Aku Dilahirkan

1 Nopember lalu, disaat gereja Katholik Roma merayakan hari semua orang kudus berdasarkan kalender liturgis, aku secara pribadi merayakan peristiwa kelahiranku.

Aku tidak tahu secara persis bagaimana peristiwa yang bersejarah buatku itu terjadi, aku hanya tahu dikemudian tahun bahwa aku dilahirkan di Panti Nugroho, sebuah rumah sakit bersalin di Jakarta. (gak tau sekarang masih ada atau enggak), oleh seorang ibu yang sungguh luar biasa dalam mencintai aku.

Sampai sejauh ini aku belum juga bisa mengerti, sebenarnya untuk apa manusia itu (dalam hal ini secara khusus adalah aku) dilahirkan ke dunia ini.

Sebagai Sang Maha Tahu tentu Sang Pencipta sudah mengerti benar akan menjadi seperti apa aku saat dilahirkan ke dunia ini. Apakah akan menjadi orang baik ataukah orang jahat.

Secara teori & dalil2 hampir semua kitab suci agama-agama besar, mengatakan bahwa aku diberi kebebasan untuk memilih dan berkehendak. Tapi sekali lagi, jalan seperti apa yang akan aku pilih, tentu Sang Pencipta sudah mengetahuinya jauh sebelum aku diciptakan. Apakah itu pilihan baik yang aku ambil hingga aku bisa dekat denganNya atau pilihan buruk yang akan menyebabkan aku menjauhiNya, Dia sudah tahu.

Bahkan sebelum aku diciptakan, Diapun sudah tahu setelah mati nanti aku akan masuk surga atau neraka, bukankah Dia Maha Tahu ?

Apa mau dikata, aku sudah terlanjur lahir, gak mungkin aku menolak kelahiranku sendiri. Aku memang tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi bukan berarti aku tidak mensyukurinya.

Karena segala sesuatunya sudah terjadi, maka aku ingin menikmati kehidupanku ini semaksimal mungkin dengan caraku sendiri. Kalo aku merasa nikmat, misalnya dengan aktivitas tidur, beol, bengong, ngulet ya sudah akan aku jadikan itu sebagai kebiasaan yang menyenangkan.

Hal yang ingin selalu aku pelajari adalah belajar bagaimana bisa ikhlas terhadap apapun, ikhlas menerima atas apa yang sudah terjadi, atas apa yang akan terjadi, karena kehidupanku sendiripun ternyata bukanlah milikku. Aku ini hanya menjalankan peran, peran yang bahkan aku sendiri tak tahu pasti akan berujung seperti apa.

Buat sebagian orang mungkin ikhlas adalah suatu sikap yang lemah, akupun pernah berpandangan seperti itu. Bisa jadi aku akan mengalami kerugian dalam hal ragawi dengan bersikap seperti itu, tapi tidak untuk jiwa. Bukankah hidup tidak harus mengikuti kemauan daging.

Jadi sebenarnya untuk apa aku dilahirkan, jawabannya adalah untuk terus menerus belajar bagaimana cara mengucapkan dan mengimani dengan penuh keikhlasan “Terjadilah padaku menurut kehendakMu” karena itulah sikap keikhlasan tertinggi yang pernah aku dengar.

Ujian akan selalu datang, karena dengan cara itulah pelajaran keikhlasanku akan diukur. Ada kalanya aku berhasil, ada kalanya aku harus mengulang, bahkan ada kalanya aku akan terlihat bodoh….. atau bahkan di suatu kesempatan ekstrim aku akan bersikap munafik dengan menjilat ludah perkataanku sendiri…..

Aku berdoa dengan penuh harap…. agar suatu saat nanti sikap ikhlas itu benar-benar aku miliki. Karena hanya dengan keikhlasanlah aku tetap bisa bersyukur disaat aku kehilangan orang-orang yang aku cintai, atau disaat-saat aku sedang mengalami hal buruk.

Aku berkeyakinan, hanya rasa ikhlaslah yang memampukan diriku untuk tidak pernah mengurangi rasa syukurku atas kehidupan ini, bahkan seandainya malapetaka menimpaku.

Jadi bila ada yang bertanya padaku, untuk apa aku dilahirkan…..
Aku hanya ingin menjawab dengan sederhana, bahwa aku hanya ingin belajar….belajar dan terus belajar entah sampai kapan….untuk memiliki sikap ikhlas……aku gak peduli apa yang akan terjadi pada kehidupanku saat ini, besok atau nanti, aku hanya ingin ikhlas menjalankan peran itu, biarlah yang lain menjadi urusan Sang Pencipta, tugasku hanyalah ikhlas menjalani apa yang telah menjadi peranku…..

Jikalau tiba saat aku menjalani peran yang buruk, aku akan berdoa, Tuhan berikanlah aku keikhlasan untuk menjalaninya……

Jikalau tiba saat aku menjalani peran yang baik, aku akan berdoa, Tuhan berikanlah aku keikhlasan untuk menjalaninya……

Roda kehidupan akan terus berputar, namun aku hanya ingin satu yang pasti dari perputaran itu….yaitu sikap ikhlas dalam menjalani semuanya…..

Dengan penuh kesederhanaan, aku ingin suatu saat aku mampu berkata dengan penuh keikhlasan :

“Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu”, karena hidupku ini bukanlah milikku.

Gambar diambil dari sini

Baca Selengkapnya....

02 September 2008

Nulis-nulis

Gak terasa udah sebulanan nulis-nulis diblog ini, lumayan dapet 16 tulisan, gak begitu produktif sih, soalnya masih ngeduluin blog-blog yang komersil, kalau diblog komersil sekali posting bisa nyampe 50 biji, batas maksimal munculnya kode verifikasi. Soalnya tinggal nyari bahan di majalah luar negri, cari yang pake bahasa spanyol, terus terjemahin ke bahasa belanda dulu atau bahasa jerman, baru terjemahin ke bahasa inggris, jadi deh bahan postingan wkakaka, lah kalo di blog ini sehari bisa posting satu aja udah bagus.

Kebanyakan ide yang ditulis disini didapet saat aku lagi bengong atau lagi naik motor dijalan. Tiba-tiba aja terlintas pingin nulis, awalnya juga cuma muncul sepotong-sepotong, ya yang sepotong itu ditulis dulu, ntar kalo dapet inspirasi lagi, entah itu dari buku yang sedang aku baca, atau pas aku lagi ngapain, ya dilanjutin nulis.

Gak tau apa yang aku tulis ini akan berguna atau enggak, pokoknya tulis aja, namanya juga ocehan, ya waton ngoceh aja, opo maneh sing ngoceh wonge rodo ndelogok hihihi…

Kayaknya sih 3 minggu ke depan bakalan sibuk deh, jadi gak bisa sering-sering nulis dulu, soalnya miskam lagi punya gawe mo ngadain Camping Rohani tanggal 19-21 September besok, buat nyambut calon anggota baru miskam. Jadi ya paling enggak ikut mendampingi panitia kalo pas rapat-rapat malem.

Kadang sampe gak sempet mo ngapa-ngapain, tuh buku dikamar juga masih banyak yang belum kebaca, ada 20-an judul kali yang ngantre dari sejak waktu belinya kapan tauk. Kalo ditumpuk bisa setinggi pinggang hehe… padahal perasaan kemana-mana udah bawa buku, sampe boker aja baca buku, sampe nih kaki kesemutan & kering deh itunya…

Aku juga bukan orang yang bisa ngetik cepet, jari tangan kiri biasanya cuma standby di huruf A, sedangkan jari tangan kanan yang sampe kemana-mana, dulu waktu pelajaran mengetik di SMA cuma dapet nilai 3 di raport, untung bukan salah satu syarat nilai kenaikan kelas. Wah masa DO gara-gara pelajarin mengetik, gak lucu dueh.

Buat yang suka kasih comment di shoutmix aku ucapin makasih, dan dijamin gak bakalan aku hapus soalnya aku gak tau caranya ngapus gimana, kata temenku harus masuk dulu ke shoutmixnya, lah username & passwordnya aja udah lupa. Biarin deh apa adanya aja.

Ya pokoknya gitu dulu deh, ya…. Sampai ketemu kapan tauk, yak…yak…yak…

Gambar diambil dari sini

Baca Selengkapnya....

19 Agustus 2008

Dunia anak

Hampir tiap sore di jam-jam aku pulang kerja, biasanya banyak anak-anak kecil pada main-main di halaman rumah kostku, mungkin karena rumah kostku punya halaman yang lebih luas dibanding tetangga kanan kiri.

Biasanya kalo pas aku pulang kerja & terus masuk kamar, tuh anak-anak pada ngikutin sampe depan pintu, terus ngeliatan aku dari luar sambil bengong diem kayak ngeliat apa gitu… dan biasanya aku juga ngikutin ngeliatin mereka sambil berlagak pasang muka bego…he…he. Kalo dah gitu biasanya pada ketawa-ketiwi deh tuh anak-anak.

Dunia anak emang dunia yang total, kalo pas lagi bermain ia akan total bermain, saat menangis ia akan 100% menangis, dan saat tertawa ia akan tertawa dengan lepas. Anak-anak selalu berada di present moment, selalu terfokus pada apa yang sedang ia alami saat ini. Kadang mengamati tingkah laku mereka itu mengasyikkan juga, dunianya begitu lepas tanpa beban & kepalsuan, selalu senang, bahagia dan total dalam mengerjakan sesuatu.

Ibarat emas murni yang menunggu untuk dibentuk menjadi seperti apa, seperti itu juga seorang anak, mau seperti apa dia nanti tergantung lingkungan sosial yang ngebentuknya. Dimulai dari orang tua, keluarga, kerabat dekat, lingkungan dimana dia tinggal, dari apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, apa yang dia tangkap.

Anak-anak adalah seorang peniru sejati, daya serapnya sangat cepat luar biasa, jauh melebihi daya serap orang dewasa, anak-anak selalu mencoba meniru apa yang dilakukan orang dewasa, selalu meniru perkataan orang dewasa dan secara tak sadar hal-hal tersebut akan selalu tersimpan dalam memori bawah sadar si anak hingga dewasa. Entah itu kebiasaan yang dia lihat, nilai sosial, doktrin yang ditanamkan oleh lingkungan, yang kesemuanya itu akan terakumulasi dan tinggal menunggu waktu saja untuk muncul kembali kepermukaan menjadi kebiasaan tingkah laku dan karakter.

Jika kita bisa menghadirkan perkataan yang baik, perkataan yang membangun, perkataan yang indah, perkataan yang dipenuhi oleh belas kasih, perkataan yang dipenuhi oleh kearifan, mereka akan tumbuh di jalan kebenaran, begitu pula sebaliknya kalau kita menghadirkan perkataan yang buruk & kasar, perkataan yang menjatuhkan mental, memperlihatkan kebiasaan yang buruk, selalu menakut-nakuti, maka bisa dibayangkan seperti apa si anak itu akan tumbuh nantinya.

Sekedar contoh kecil aja diriku sendiri, masih inget dulu waktu kecil aku sering banget ditakut-takutin oleh mbak-mbakku mengenai adanya hantu yang bergentayangan di kegelapan, mbak-mbakku bilang gitu biar aku gak ikut mereka kalo mau pergi maen. Nah cilakanya aku yang sebelumnya gak punya konsep tentang hantu & ketakutan, dengan serta merta menjadi takut pada gelap karena khawatir akan menemui hantu di sana. Hal ini terus mengendap dalam pikiran bawah sadarku, sehingga aku selalu takut akan kegelapan. Butuh waktu yang lama untuk sembuh, dengan memprogram ulang pikiran bawah sadarku mengenai kegelapan. Baru sembuh saat aku hidup di asrama, kalo pas dapet jatah piket jaga malem nyalain & matiin keran air malem2, lewat lorong-lorong bangunan bikinan belanda yang gelap & seram (persis kek uji nyali), toh gak ada apa-apa ternyata. Dari situ pelan-pelan aku sadar bahwa ketakutan itu hanya imajinasiku saja dan akhirnya pikiran bawah sadarku bisa terprogram ulang.

Itulah sekelumit dunia anak, dunia yang selalu ingin dibentuk para orang dewasa, dengan doktrin-doktrin yang juga bisa jadi dia dapat saat dia masih anak-anak, terlepas dari apakah doktrin itu benar atau salah.

Gambar diambil dari sini

Baca Selengkapnya....

12 Agustus 2008

Miskam Weekly Family (9-10 Agst 2008)

Akhirnya jadi terlaksana juga acara ini, setelah menjalani masa persiapan selama kurang lebih 3 bulan sejak rapat pertama di Wisma MM UGM di bulan Mei lalu. Sebenernya aku sempet ketar-ketir juga, seminggu sebelum hari H yang ndaftar baru 22 orang, padahal targetku yang ikut bisa 100-an orang, tapi dalam hati aku tetap yakin kalo acara ini tetap akan banyak peminatnya, untunglah 3 hari kemudian ada lonjakan peserta hingga mencapai 65 orang. Kalo dihitung pas hari H sih bisa nyampe 70-80 an orang, soalnya banyak yang datangnya mendadak, walaupun juga banyak diantara mereka yang gak bisa ikut sampe acara selesai. Sebenarnya banyak sih yang ingin ikut, cuma rata-rata gak mendapat cuti dari tempat mereka kerja, banyak yang gelo gak bisa datang, tapi walau begitu mereka tetap berperan dengan memberikan sumbangan.

Acara ini boleh dibilang sukses berat, walaupun baru diadakan untuk yang pertama kali, semua peserta menginginkan agar acara seperti ini bisa diadakan minimal 1 tahun sekali, sebagai salah satu wahana untuk melepas kangen & menjaga komunikasi para miskamers yang tersebar di seluruh nusantara, hingga mencapai usia lanjut.

Bila selama ini para miskam alumni hanya berkumpul karena ada undangan dari miskam yang masih berstatus mahasiswa, maka acara kemarin giliran miskam alumni yang mengundang miskam mahasiswa untuk hadir.

Gak tau kenapa persaudaraan di miskam buat aku beda banget, selalu ada rasa kangen untuk berkumpul, dan ternyata perasaan ini juga dimiliki teman-teman yang lain. Akhirnya dari yang sekedar perasaan ingin berkumpul itu, bisa diwujudkan secara nyata selama 2 hari, berikut gambaran suasana acaranya :

Tiba di hotel Wijaya 2, lokasi acara Miskam Weekly Family (pukul 17.00-20.30)
Awan putih berarak di langit yang biru seakan mengiringi perjalanan kami dari tangga kampus almamater tercinta menuju Kaliurang, udara pegunungan yang sejuk seolah juga tidak ingin ketinggalan untuk mengucapkan selamat datang kepada kami begitu tiba di lokasi acara. Dalam perjalanan, kami terbagi dalam beberapa rombongan, baik besar maupun kecil, dan waktu tiba pun tidak secara bersamaan. Saya & beberapa rekan yang lain tergabung dalam rombongan pertama tiba di lokasi sekitar pukul 5 sore, sedangkan rombongan besar lainnya terakhir tiba di lokasi sekitar pukul 20.30 Wib, setelah itupun masih ada beberapa rombongan kecil yang juga masih berdatangan.

Ngopi. Ngeteh, & Makan Malam
Sambil menikmati suasana Kaliurang yang sejuk & romantis, kami melewatkan suasana sore dengan ditemani minuman hangat berupa kopi & teh yang telah disediakan oleh pengelola hotel. Suara derai tawa dalam canda ria semakin menghangatkan suasana, seolah ingin mengalahkan dinginnya senja yang mulai merasuk secara perlahan, sebagai pertanda peralihan waktu dari senja ke malam hari telah dimulai. Tawa tergelak, cekikikan, dan sapaan “piye kabare, suwe ora ketemu”, seolah menjadi bahasa wajib di malam itu, bahkan saat makan malam seolah menjadi ajang pementasan orkestra pelepasan rasa rindu karena lama tak bertemu. “Wah kowe kok saiki tambah lemu”, “Kok kowe ora lemu-lemu”, “Piro saiki anakmu”, terdengar bagaikan suara nyanyian merdu yang saling bersahutan dalam ajang pentas di ruang makan.

Ngobrol santai membahas paguyuban alumni di aula (pukul 20.30-24.00)
Ruang aula yang sempat dikomentari mbak Nopek (Angk 98) “ruang aulane kok resmi banget”, terisi sekitar 60-70 an orang saat kami melangsungkan diskusi, sebelum acara diskusi dimulai mas Kriswanto (Angk 03), mbak Ana (Angk 99) & mas Bagus (Angk 03) yang merupakan perwakilan dari miskam cabang Jakarta memaparkan hasil pertemuan miskam cabang Jakarta di puncak beberapa waktu yang lalu, kemudian dilanjutkan dengan pemutaran slide foto2 dan rekaman video saat berlangsungnya acara tersebut dengan menggunakan LCD proyektor, yang tentu saja mengundang celetukan komentar & gelak tawa secara spontan dari peserta bila ada foto-foto atau gambar yang tampak lucu dilihat. Setelah pemaparan dari para duta besar miskam Jakarta selesai, barulah acara diskusi dimulai, diskusi yang sebelumnya sempat dikhawatirkan akan berjalan dengan membosankan ternyata sama sekali tidak terbukti, bahkan waktu yang disediakan terpaksa harus ditambah karena pembicaraan berlangsung dengan sangat meriah & hidup, diskusi dibagi dalam 8 kelompok kecil yang terdiri dari berbagai angkatan yang berbeda, sehingga bagi yang belum saling mengenal bisa saling memperkenalkan diri satu sama lain. Sambil menikmati kudapan berupa lumpia & nagasari (kalo di medan namanya nagabonar) yang disediakan pihak hotel, kami membahas 2 pertanyaan yang diberikan oleh panita yang intinya mengenai keberlangsungan paguyuban alumni. Setelah acara diskusi selesai dilanjutkan dengan pemaparan rangkaian acara 30 tahun miskam oleh Steering Comitte (SC) yang telah dibentuk, SC menerangkan bahwa acara perayaan 30 tahun dimulai sejak dari Camping Rohani, Rekoleksi, Misa Pantai & Ziarah hingga puncaknya pentas seni & bakti sosial di bulan Februari.

Bakar jagung & bebas santai (pukul 24.00-04.00)
Dinginnya malam yang mulai menusuk bukanlah penghalang yang berarti bagi kami untuk menikmati kebersamaan di seputar halaman hotel. Jagung, mentega, saos, makanan ringan, areng, anglo, kipas angin, gitar & sedikit minuman penghangat, merupakan sebagian peralatan yang mendukung suasana kebersamaan itu, dengan beralaskan tikar kami semua duduk di halaman, bintang-bintang di langit seolah berjanjian satu sama lain untuk menerangi kami semua. Semua ciri khas asli miskam tampak terlihat dalam acara ini, canda yang konyol, lagu-lagu dengan lirik aneh, celotehan gak karuan, seolah saling berlomba berebutan untuk hadir meramaikan suasana. Seperti tak ingin kalah dalam meramaikan suasana, kulihat di dalam aula juga tampak sedang berlangsung acara yang cukup panas, mas Boy (Angk 01), mas Gembul (Angk 01), mbak Westri (Angk 01) & mbak Vivi (Angk 01) berjoget ria dengan diiringi musik dangdut dari keyboard tunggal yang dibawakan oleh mas Oki (Angk 98). Malam semakin menjelang ketika kudengar suara nyanyian mbak Nopek (Angk 98) melengking tinggi dengan merdu dari dalam aula, suara yang membahana memecah kesunyian malam seolah ingin membangunkan seluruh penunggu & penghuni Kaliurang, suara nyanyian ini juga bagaikan inspirasi bagi para kelelawar dan burung hantu dalam mencari makan.

Jalan santai ke gardu pandang (06.00-08.30)
Gerimis lembut secara perlahan turun dari langit seolah ingin memberikan ucapan selamat pagi ketika adik-adik angkatan 2006 & 2007 bangun paling awal, sambil menyapaku “mas ayo jadi jalan-jalan ke gardu pandang gak” sejenak kemudian seolah tak ingin kalah, bermunculanlah dari balik kamar para peserta yang lain, “iya, ayo jalan-jalannya sekarang aja”. Karena ada beberapa peserta yang masih ingin menonton acara gosip pagi di televisi yang ada di kamar, atau ada yang sekedar ingin membasuh muka terlebih dahulu, sementara di lain pihak juga ada desakan agar acara jalan-jalannya segera dimulai, maka acara jalan-jalan akhirnya terbagi dalam 2 kloter. Perjalanan dari hotel ke gardu pandang ditempuh kurang lebih selama setengah jam, suasana pagi yang sejuk, pemandangan kaliurang yang khas dengan vila-vila tuanya, pepohonan pinus, kicauan suara burung dan pemandangan gunung Merapi serasa bagaikan pertemuan dengan para sahabat lama bagi kami, sambil sesekali berhenti untuk sekedar berfoto ria, kami melihat villa-villa yang pernah kami pakai untuk acara rekoleksi sambil disertai cerita-cerita seram yang pernah mengiringi di kala itu.

Pelatihan Brain Power & Power of Dream, oleh mas Warenk (Angk 95) (10.00-11.30)
Mungkin dalam sejarah miskam, materi seperti ini bisa jadi baru pertama kali disampaikan, materi yang secara luar biasa dibawakan oleh mas Warenk (Angk 95) ini menceritakan betapa dahsyatnya kekuatan pikiran bawah sadar, bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan, mas Warenk juga mengungkapkan perbedaan antara takdir & nasib, dalam sesi ini juga diceritakan kesaksian perjalanan hidup mas Warenk yang semuanya tidak terlepas dari penggunaan kekuatan pikiran bawah sadar, pelatihan untuk merasakan hadirnya kekuatan pikiran bawah sadar dilakukan dengan menggunakan metode meditasi & renungan sambil diiringi musik yang menyejukkan & mendamaikan hati, bahkan banyak dari peserta yang sampai menitikkan air mata saat mas Warenk mulai masuk ke memori paling dalam yang telah tersimpan di alam bawah sadar kita mengenai sosok seorang ibu. Di penghujung materi mas Warenk mengajak seluruh peserta untuk mendeklarasikan tentang penggunaan pikiran bawah sadar ini, peserta diajak berjanji untuk selalu berpikir postitif dalam segala hal, selalu optimis dalam hidup, melakukan afirmasi (sugesti diri) & mengimajinasikan seluruh keinginan yang telah dicita-citakan, deklarasi dilakukan sambil bergandengan tangan satu sama lain dalam bentuk lingkaran, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu berjudul We Are The Champion, dengan diiringi suara musik dari grup band Queen tersebut, bahwa kita adalah pemenang dalam hidup ini. Dalam sesi ini mas Peyek (Angk 97) juga ikut memberikan kesaksian mengenai penggunaan pikiran bawah sadar untuk mendapatkan pekerjaan & gaji sesuai dengan yang diinginkan.

Mencari dollar lewat internet, oleh Mas Reog (Angk 00) (11.30-12.30)
Sesi ini merupakan bentuk pengenalan cara mencari uang melalui internet secara halal, dengan maksud agar para peserta bisa memanfaatkan peluang ini. Beberapa peluang yang ditawarkan dalam sesi ini misalnya Google Adsense, Text Link Ads, Afiliasi Amazon, Ebay dll. Diharapkan kedepannya peluang ini mampu memberdayakan para anggota miskam dari segi ekonomi, sehingga kalau miskam sedang mengadakan acara tidak lagi kesulitan untuk mencari sumbangan…he…he...

Lucky Draw, Foto Bersama, Sayonara (13.00-14.00)
Lucky Draw mungkin menjadi salah satu acara yang paling ditunggu, sebenarnya doorprize dalam bentuk uang tunai ini menjadi salah satu daya tarik agar peserta mau membayar lebih dari iuran seharusnya…he…he… Lucky Draw dibawakan oleh mas Gembul (Angk 01) & mas Andre (Angk 01), sedangkan para pemenangnya berturut-turut adalah mas Peyek (Angk 97), mbak Monik (Angk 01), mbak Niken (Angk 97) & mas Restu (Sobat Miskam). Namun secara spontan para pemenang menyumbangkan kembali uang yang di dapat kepada panitia (untuk nomboki kekurangan katanya), sungguh mengharukan. Akhirnya tibalah saat menggenapi pepatah, tiada pesta yang tak usai, pertemuan kembali dalam kebersamaan yang dimulai sehari sebelumnya harus segera di akhiri, bagi sebagian peserta kebersamaan ini mungkin baru bisa terulang kembali di tahun berikutnya. Setelah ditutup oleh doa, kemudian para peserta saling bersalam-salaman dalam bentuk lingkaran dengan diiringi lagu miskam, lagu yang mengumandangkan bahwa dalam miskam kita semua sama, dalam miskam kita bersaudara, dalam miskam kita selalu melantunkan nada dalam canda & tawa, riang gembira sebagai doa syukur padaNya. Setelah puas berfoto-foto ria, akhirnya kami semua berangkat untuk pulang bersama dan kembali melanjutkan perjalanan hidup pada kegiatan kami masing-masing

Sampai ketemu lagi di Camping Rohani bulan depan

Baca Selengkapnya....

04 Agustus 2008

Buku manual kehidupan

Sewaktu aku beli pompa air minum mineral ukuran galon di hari Minggu kemaren, aku sempat bingung gimana cara merangkainya, padahal aku beli yang baru itu untuk menggantikan pompaku yang lama gara-gara dirusakin temenku. Lah kalo dulu bisa ngerangkai kenapa sekarang enggak, begitu pikirku.

Sambil ngeliat-liat buku petunjuk cara merangkai & cara penggunaannya, akhirnya gak butuh waktu lama selesai juga rakitan pompaku. Ternyata dengan adanya buku petunjuk itu sangat membantu aku buat ngerakit.

Ah seandainya saja masing-masing manusia dibekali dengan buku petunjuk manual cara mengarungi kehidupannya di saat lahir, pasti segala sesuatunya bisa dijalani dengan mudah. Aku tentu tidak perlu bingung disaat dilema kehidupan datang menghampiri di pesimpangan jalan. Aku tinggal melihat di buku manual itu, apa yang harus aku lakukan, beres. Dan aku gak perlu takut bahwa apa yang aku lakukan itu salah.

Lah kalo pompa bikinan manusia yang cuma seharga 18 ribu perak aja disertai dengan buku petunjuk manual lengkap, kenapa manusia yang katanya ciptaan paling sempurna & berharga dimataNya gak disertai buku petunjuk cara mengarungi hidup saat dia dilahirkan? Apa gak seharusnya sejak manusia itu lahir disertai dengan buku petunjuk manual yang jauh lebih lengkap, mengingat kompleksitas permasalahan yang akan dihadapi & diarunginya?

Pertanyaan kayak gini sebenernya bukan cuma sekali aja muncul di benakku, gak tau udah berapa banyak buku yang aku baca, berapa kotbah yang aku dengar & berapa banyak orang yang aku tanyai untuk mencari jawaban. Ketika aku hampir saja menemui jawaban, muncul lagi pertanyaan berikutnya, terus buat apa manusia itu hidup.

Apa ya cuma sekedar lahir, sekolah, kerja, kawin, berkeluarga, tua, terus mati? Kok kayaknya monoton banget. Apa ya ini akan menjadi sebuah pencarian yang membutuhkan waktu seumur hidup?.

Aku sering denger ungkapan yang mengatakan kalau hidup itu adalah perjuangan, tapi aku juga pernah baca buku yang mengatakan, kalau kamu menganggap hidup ini adalah sebuah perjuangan maka kamu akan mendapati hidupmu itu selalu dipenuhi dengan perjuangan dan pergulatan yang keras, tetapi kalau kamu menganggap bahwa hidupmu sebagai suatu karunia yang takkan pernah habis untuk dinikmati, maka kamu akan mendapati hidupmu selalu dipenuhi dengan rasa syukur yang selalu memancar dari hatimu. Nah loh, mana tuh yang bener. So pasti keknya aku lebih setuju pandangan yang kedua.

Rata-rata umur manusia itu kan paling berkisar antara 60-70 tahun, berarti sudah hampir separuhnya aku lalui, nah disini aku coba lihat sebentar perjalanan hidupku kebelakang. Kayaknya perjalanan hidupku itu lebih berbunyi dan lebih menceritakan kalau aku tuh hidup lebih karena kebetulan deh, bukan karena perjuangan.

Kebetulan aja aku dilahirkan di keluarga yang baik dan cakap mendidik aku sampe kayak gini, aku gak pernah merasa berjuang minta pada Tuhan untuk dilahirkan di keluarga yang kayak apa. Kebetulan keluargaku waktu itu bisa menyekolahkan aku sehingga aku gak perlu berjuang agar aku bisa sekolah, kebetulan aja pas udah lulus kuliah aku ikut camping miskam kemudian mendapat tawaran kerja dari salah satu alumni sehingga aku gak perlu berjuang untuk cari-cari kerjaan, kebetulan juga aku pernah dapet kerjaan di solo karena dapat tawaran dari seorang teman, sehingga aku gak perlu berjuang untuk mendapatkan gaji seperti yang aku inginkan waktu itu, kebetulan juga aku bisa balik lagi ke jogja karena dapet tawaran kerja dari seorang teman, sehingga aku gak perlu berjuang agar bisa dapet kerja di Jogja. Kebetulan aja aku bisa main internet, bisa ngeblog sampe dapet duit gara-gara diajarin temenku, sehingga aku gak perlu berjuang susah payah, pontang panting, lintang pukang, buat belajar sendiri.

Nah kalo emang bener hidup itu perjuangan, lalu dimana sisi perjuangan hidupku, lha wong semua yang aku dapat serba kebetulan, kayaknya buat aku emang lebih tepat kalo hidup itu adalah suatu karunia yang gak akan pernah habis untuk dinikmati & disyukuri deh, dan aku percaya semua kebetulan-kebetulan baik akan selalu menghampiriku disaat ini dan dimasa mendatang, sehingga dengan demikian aku gak perlu lagi yang namanya buku manual kehidupan. Gitu...

So....gimana dengan idup lo....

Baca Selengkapnya....

01 Agustus 2008

Kerja keras & Pendidikan vs Bejo

Pernah gak liat orang yang udah kerja keras sepanjang hidupnya tapi tingkat perekonomiannya terbilang biasa-biasa aja atau bahkan mengenaskan, aku pernah baca koran lokal yang isinya tertulis kalo pengangguran S1 di kota pelajar tuh berjumlah ratusan ribu dan untuk S2 nya mencapai puluhan ribu. Gak tau berita ini benar atau salah, atau malah mataku yang salah lihat, yang pasti berita ini semakin membuatku bertanya-tanya, faktor apa sih yang membuat orang itu bisa sukses. Kerja keras, pendidikan atau bejo ?

Kalo berkaca pada diriku sendiri, maka dengan tegas aku akan menjawab bahwa faktor utama adalah bejo, aku memang belum sesukses seperti yang aku inginkan, tapi aku merasa sebagai orang yang paling beruntung di dunia atas pencapaianku selama ini. Aku bisa sekolah walaupun gak tinggi, kemudian bekerja sesuai latar belakang pendidikan terakhir. Banyak orang yang gak seberuntung aku, tapi juga banyak orang yang jauh lebih beruntung dari aku.

Ada orang yang bilang, tak akan pernah ada keberuntungan tanpa didukung dengan kerja keras & pendidikan. Sori aku gak sependapat, buat aku bejo ya bejo, titik gak pake embel-embel. Lah kalo orang dapet lotere apa ya dia harus kerja keras dulu, harus berpendidikan dulu, bejo bisa menghampiri siapa aja tanpa memandang jenis kelamin, usaha keras, atau pendidikan.

Aku pernah punya teman sekolah SMA, orangnya pinter gak ketulungan, waktu kuliah juga IP nya hampir selalu 4, tapi ya sekarang hidupnya biasa-biasa aja tuh, kerjanya juga gak sebanding dengan predikatnya dulu yang selalu terbaik. Beda banget dengan teman sekolahku yang satunya lagi, waktu sekolah biasa-biasa aja, kuliah juga biasa-biasa aja, tapi kerjanya selalu berpindah-pindah perusahaan top, dia juga pernah kerja di lembaga negara yang banyak menjadi impian para pencari kerja, tapi sayang dia memilih keluar dari situ, terlepas dari apapun penyebabnya, buat aku itu merupakan suatu tindakan bodoh.

Aku sama sekali gak menganjurkan orang untuk tidak bekerja keras ataupun berpendidikan tinggi, buat aku kerja keras adalah ibadah, sedangkan pendidikan adalah jendela informasi, tapi buat aku semua itu gak ada hubungannya sama sekali dengan bejo. Keberuntungan tetap sebagai dewa tertinggi.

Lalu bagaimana caranya supaya selalu beruntung? Nah ini yang sekarang sedang aku pelajari, aku lagi getol baca buku tentang kekuatan pikiran, isinya sih kurang lebih menceritakan tentang “kenapa kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, maupun mendapatkan apa yang tidak kita inginkan”. Mungkin selama sisa umur hidupku akan aku pakai untuk belajar dan menerapkan hal tersebut.

Maka dari itu jadilah orang yang selalu dikelilingi dengan keberuntungan, kalo perlu gantilah nama menjadi bejo…… biar kayak temenku bisa ketemu artis cantik terkenal, ditraktir, dibikinin Nescafe, disuruh nelpon kalo pas maen ke kotanya, iki sing jenenge bejo.

Baca Selengkapnya....

31 Juli 2008

Bebas Tafsir


Manusia itu kan bebas berpendapat, beropini, bahkan berprasangka, terlepas dari seberapa banyak & seberapa akurat info yg didapat. Ibarat 2 orang buta memegang seekor gajah, ketika salah satu memegang belalai maka dia akan berkata bahwa gajah itu panjang, ketika salah satunya lagi memegang telinga maka dia akan berkata bahwa gajah itu lebar, jadi ya begitulah hidup....bebas tafsir....mungkin karena merasa meraba dengan telapak tangannya sendiri....tapi sayangnya kurang menyeluruh....hanya sepenggal....

Sebenernya sakit juga sih kalo menjadi korban dari pandangan sepihak yang kayak gini, apalagi kalo pandangan sepihak itu hanya berasal dari secuil info dari orang yang katanya mengalami peristiwanya sendiri, atau melihat secara langsung dengan mata kepalanya sendiri, atau memegang dengan tangannya sendiri.

Tapi karena yang dialaminya sendiri itu cuma secuil, yang dilihat cuma secuil, yang dipegang cuma secuil, jadinya seperti orang buta yang memegang telinga atau belalai gajah persis ilustrasi yang di atas itu.

Ya begitulah kehidupan. Sebagai salah satu orang yang menghargai kebebasan berpendapat, beropini, bahkan berprasangka, selama itu tidak menyerang dan merugikan orang secara fisik, aku sih oke-oke saja, walaupun belum lama ini aku menjadi korban dari pandangan sepihak, easy going dab.

Baca Selengkapnya....

29 Juli 2008

Riwayatku


Cowok bertubuh kerempeng dan bergigi tonggos layaknya Freddy Mercuri ini dulunya numpang lahir di kota semrawut Jakarta, sebuah kota yang gak bakalan ingin ditinggalinya lagi, karena kapok sering terjebak macet saat kebelet pipis di jalan.

Tepat di penghujung awal bulan Nopember si jabang bayi yang dikemudian hari diberi nama keren Ignatius Wicaksono Suryo Putro yang kemudian oleh teman-temannya dengan tega dipanggil peyek hadir ke dunia untuk sekedar mampir ngombe, mangan, turu, karo ngising. Untuk selanjutnya, dimulai dari saat remaja hingga saat ini, lagu November Rain yang syahdu & melankolis dari grup band Guns N Roses selalu mengudara dari radio-radio sebagai soundtrack abadi dalam menyambut hari ulang tahunnya di bulan Nopember.

Lahir dari keluarga besar yang terdiri dari satu bapak, satu ibu, empat kakak perempuan dan satu kakak laki-laki, maka sebenarnya kelahiran si bontot ini tidaklah begitu diharapkan, bahkan sang bunda sempat merasa malu pada tetangga sekitar, karena masih mengandung si peyek di saat usianya sudah tidak muda lagi. Tapi rupanya takdir berkata lain, mungkin karena kebobolan, dan juga sudah menjadi kehendak Ilahi, maka kehadiran si peyek ke dunia tak ada yang mampu menghalangi.

Masa kecil si peyek di Jakarta dijalaninya dengan biasa-biasa saja, tidak ada peristiwa yang perlu diceritakan selain sering mengompol di sekolah sewaktu TK sampai dengan kelas 3 SD. Di masa ini peyek bersekolah di TK & SD Santo Markus Cililitan, namun hanya sampai kelas 4 SD saja si peyek bersekolah di sana, setelah itu bersama kedua orang tuanya pindah ke tempat yang sunyi di kaki bukit menoreh, yaitu Borobudur.

Dalam suasana pedesaan yang hening di salah satu dusun kecil di daerah Borobudur, si peyek tumbuh berkembang menjadi remaja yang pendiam dan pemalu. Masa belajar dihabiskan dengan bersekolah di SD & SMP Kanisius yang sederhana. Menanam kacang, mendangir & memanen adalah salah satu hal yang luar biasa yang ditemui si peyek di sekolah ini. Boker dan mandi di sungai sehabis pulang sekolah, ngirik ikan di saluran irigasi, mencari buah ketapang di pelataran candi Borobudur adalah hal biasa yang dilalui dalam keseharian di masa itu, tetapi itu semua dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua, karena orang tua si peyek termasuk dalam kategori orang yang rada over protektif, yang isinya serba khawatir.

Karena terdorong sikap ingin lepas dari sifat mbok-mboken sebagai resiko anak bontot, si peyek melanjutkan sekolah berasrama di kota kecil Muntilan. Hal ini sekaligus meneruskan tradisi keluarga, sebab dari kakek, nenek, ayah, budhe, om dan tante semuanya pernah mengalami rasanya sekolah berasrama yang katanya seram, keras, penuh hukuman dan makanannya selalu nggak enak. (bersambung...)

Baca Selengkapnya....